Blog > Jangan Lagi Lengah dari Serangan Siber ini di 2018

Week 57_1

HYPERNET – Pada tahun baru 2018 yang akan datang bukan hanya resolusi hidup yang Anda pikirkan, namun keamanan data perusahaan dari serangan siber juga perlu diperketat. Pasalnya, penjahat siber diperkirakan akan semakin canggu memanfaatkan teknologi untung menyerang target mereka. Karena itu, selain Anda harus mulai menentukan layanan Managed Service Provider untuk meningkatkan keamanan, Anda juga perlu mencari tahu serangan siber yang akan menjadi tren pada 2018.

Dikutip dari Antaranews.com, Direktur Sistem Teknik Symantec Malaysia dan Indonesia, David Rajoo dan Country Manager Symantec Indonesia Andris Masengi memperkirakan serangan siber di 2018 lebih besar karena para peretas menyalahgunakan fungsi kecerdasan buatan. Berikut prediksi serangan siber tahun depan.

Malware file-less.  Selain malware WannaCry, ternyata ada yang lebih dulu hadir. Namanya malware file-less. Malware ini tumbuh pada 2016 dan 2017. Bentuk serangannya bukan berupa ancaman ataupun berkas, melainkan perintah (command) sehingga bentuknya tidak terlihat. Tentu serangan ini lebih berbahaya karena penyerang mencoba menipu korban. Jadi, sebaiknya perusahaan memberikan pelatihan kepada seluruh karyawannya.

Serangan di blockchain. Blockchain adalah salah satu teknologi yang tidak menggunakan pihak ketiga dalam suatu proses pertukaran data yang dalam hal ini terjadi pada proses transaksi. Sederhananya, jika Anda membeli sesuatu di toko dengan membayar menggunakan kartu debit, maka pihak toko akan percaya saldo yang anda masukkan sudah masuk ke rekening milik mereka. Nah, pihak ketiga yang dimaksud disini adalah perusahaan Bank yang sebagai penghubung pembeli dan penjual tersebut dalam bertransaksi menggunakan kartu debit tadi. Seiring dengan banyaknya transaksi online, peretas juga semakin melirik blockchain. Penjahat siber fokus pada pertukaran koin dan dompet koin (coin wallet) dengan memanfaatkan komputer atau perangkat seluler korban sebagai "miner".

Serangan yang memanfaatkan AI dan machine learning. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan machine learning dimanfaatkan untuk perlindungan keamanan siber. Tapi, penjahat siber diperkirakan mulai mengubahnya untuk melancarkan serangan.

Serangan lewat IoT. Saat ini penggunaan internet of things (IoT) sedang menjadi tren di mana-mana. Peralatan elektronik di rumah terhubung dengan internet, seperti televise, pengeras suara, dll. Pengguna IoT sering tidak mengubah setelan keamanan padahal alat tersebut memiliki akses ke jaringan di rumah. Jika sudah terjadi seperti itu, Hacker melakukan aksinya dengan mengelabui sistem di alat tersebut sehingga IoT akan menuruti perintah mereka.

Source